Sejarah Subak


Posted on December 19, 2017



Berdasarkan temuan dalam prasati, dapat disimpulkan bahwa pertanian dengan sistem perladangan dan sistem persawahan yang teratutur telah ada di Bali pada tahun 882 M. dalam prasasti sukawana Al tahun 882 M, terdapat kata "Huma" yang berarti sawah, dan kata "perlak" yang berarti tegalan. mengenai sistem pengairan sawah yang sudah teratur di Bali, sudah pada tahun 896 M. keterangan ini diberikan kesaksian pada prasasti Bebetin Al tahun 989 M, yang antara lain menyebutkan kata "undagi lancang, undagi batu, dan undagi pengarung" yang artinya tukang membuat perahu, tukang mencari batu, dan tukang membuat terowongan air atau aungan. Dalam Prasasti Raja Purana Klungkung yang berangka tahun kemudian saka 994 (1072 M). Itu disebutkan kata "kasuwakan" yang kemudian menjadi "Suwak" atau "Subak". keaslian sistem ini juga diperkuat dengan adanya lontar Markandeya Purana sebagai dokumen historis, yang menyebutkan : "...sang mikukuhin sawah kawastanin Subak, sang mikukuhin toya kawastanin pakaseh, ika ne wenang ngepahan toya punika ..." artinya: "...yang mengurus persawahan sawah, seperti menggarap sawah, dan sebagainya, dinakaman suba, sedangkan yang diberi tugas untuk mengurus dan menyelenggarakan pembagian air di sawah dan ladang disebut pekaseh". Ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan bertani terutama dalam bercocok tanam padi banyak dimuat dalam sastra PURANA SRI dan AJI PARI. Subak jika dilihat dari unsur pemuja (PURA) diklasifikasikan sebagai PURA SWAGINA (FUNGSIONAL). Dengan demikian subak merupakan suatu bentuk ikatan profesi (fungsional) sebagai petani sawah. Paparan sejarah subak ini memberi ciri tentang keberadaan subak sebagai organisasi profesi petani sawah, yang terberntuk dari kesadaran sendiri, mengusahakan, melakukan pengaturan air, melakukan pengaturan bercocok taman dan lain-lain, dijiwai oleh agama yang dianut dan perkembangannya melalui suatu proses yang panjang, secara turun temurun dan sambung menyambung yang lanjut menjadi tradisi.